Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Seru sekali melihat Podcast asian weeks 27th February. Dunia perdagangan internasional saat ini sedang berada di persimpangan jalan yang paling membingungkan dalam satu dekade terakhir. Jika kita membayangkan ekonomi global sebagai sebuah mesin jam yang rumit, maka kebijakan tarif Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump saat ini adalah pasir yang masuk ke dalam roda giginya. Bukan hanya memperlambat, tetapi berpotensi membuat ketidakpastian mekanisme kerja sama antarnegara yang sudah dibangun selama puluhan tahun.

1 Click. 1 Comment. 1 Great Review

EDUopinions

Pemicu utama kekacauan terbaru ini adalah Drama Hukum: Dari IEEPA ke Section 122 ,putusan bersejarah Mahkamah Agung AS pada 20 Februari 2026. Dalam keputusan yang mengejutkan banyak pihak, pengadilan tertinggi tersebut menyatakan bahwa penggunaan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) oleh Presiden Trump untuk memungut tarif secara luas adalah tindakan yang melampaui wewenang eksekutif.

Secara teori, ini seharusnya menjadi berita baik bagi eksportir. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Hanya dalam hitungan jam setelah putusan tersebut, Gedung Putih langsung beralih ke senjata hukum lain: Section 122 dari Trade Act 1974. Ini adalah manuver “pintu belakang” yang memungkinkan Presiden untuk memberlakukan tarif global sebesar 10% hingga 15% dengan alasan keseimbangan pembayaran (balance of payments).

Masalahnya, Section 122 memiliki batasan waktu yang sangat ketat, yaitu hanya 150 hari. Inilah yang menciptakan “bom waktu” bagi perdagangan dunia. Para pelaku usaha kini harus beroperasi di bawah aturan yang mungkin akan kedaluwarsa atau berubah total pada Juli 2026. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan manufaktur pesawat atau otomotif bisa merencanakan produksi jangka panjang jika aturan pajaknya hanya berlaku selama lima bulan?

Sektor penerbangan dan dirgantara adalah contoh nyata bagaimana ketidakpastian ini memukul urat nadi industri. Berdasarkan laporan dari Aviation Week dan AirInsight, meskipun secara teknis pesawat sipil dan suku cadangnya sering mendapatkan pengecualian (exemptions), rantai pasoknya tidaklah kebal.

Sebuah mesin jet tidak muncul begitu saja. Ia membutuhkan baja khusus, aluminium, dan mineral langka seperti yttrium. Ketika tarif dikenakan pada bahan mentah ini, biaya produksi melonjak. Ketidakpastian mengenai apakah tarif ini akan tetap ada atau dihapus setelah 150 hari membuat perusahaan seperti Boeing atau Airbus sulit menentukan harga jual.

Your Alma Mater Needs YOU! Give us a 5-star review today

EDUopinions

Selain itu, ada masalah psikologis dan diplomatik. Ketika AS menerapkan tarif “timbal balik” (reciprocal), negara mitra seperti Kanada atau Uni Eropa cenderung melakukan aksi balasan. Jika Kanada membalas dengan tarif pada komponen elektronik yang dibutuhkan pabrik di AS, maka terjadilah lingkaran setan biaya yang pada akhirnya harus dibayar oleh konsumen lewat harga tiket pesawat yang lebih mahal.

Tetangga terdekat Amerika, Kanada dan Meksiko, berada dalam posisi yang paling sulit. Sebagai anggota pakta perdagangan bebas, mereka berharap adanya stabilitas. Namun, kebijakan tarif yang berubah-ubah ini telah menciptakan situasi kacau di perbatasan.

Laporan dari The Air Current menunjukkan bahwa ketidakpastian tarif telah mengganggu aliran kabel (wiring) dan komponen penting yang diproduksi di Meksiko untuk pabrik-pabrik di AS. Bayangkan sebuah pabrik di Texas yang harus berhenti beroperasi hanya karena komponen kecil dari Meksiko tertahan di bea cukai karena perdebatan aturan tarif yang berubah dalam semalam.

Ketidakpastian ini juga memicu apa yang disebut sebagai “pengalihan perdagangan.” Mitra dagang AS mulai mencari alternatif. Jika AS dianggap sebagai pasar yang tidak stabil dan penuh risiko hukum, maka negara-negara di Asia dan Eropa akan mempercepat perjanjian dagang di antara mereka sendiri, meninggalkan AS di pinggir jalan.

Satu hal yang paling memusingkan adalah nasib uang yang sudah terlanjur dipungut selama tahun 2025. Diperkirakan ada sekitar US$130 miliar hingga US$160 miliar uang tarif yang kini statusnya “ilegal” menurut Mahkamah Agung.

Perusahaan raksasa seperti FedEx dan ribuan importir kecil kini menuntut pengembalian dana tersebut. Namun, pemerintah AS mengisyaratkan akan melawan di pengadilan daripada mengembalikan uang tersebut secara sukarela. Ini menciptakan “lubang hitam” finansial. Perusahaan tidak tahu apakah mereka akan mendapatkan uang mereka kembali, yang berarti mereka tidak bisa menggunakan dana tersebut untuk investasi atau ekspansi.

Ketidakpastian finansial ini merembes ke pasar saham. Investor membenci ketidakjelasan. Ketika sebuah perusahaan tidak bisa memprediksi biaya operasionalnya karena masalah tarif, harga sahamnya cenderung bergejolak, yang pada akhirnya memengaruhi dana pensiun dan tabungan masyarakat luas.

Meskipun fokus utama seringkali pada pemain besar, negara berkembang seperti Indonesia juga terkena getahnya. Indonesia mengekspor berbagai komoditas dan barang manufaktur ke AS. Ketidakpastian tarif global membuat pembeli di AS menjadi ragu-ragu untuk membuat kontrak jangka panjang.

Jika pembeli di New York tidak yakin apakah mereka harus membayar tambahan 15% tarif pada bulan Agustus nanti, mereka mungkin akan menunda pesanan furnitur dari Jawa atau tekstil dari Sumatera. Hal ini bisa menyebabkan penurunan volume ekspor dan mengancam lapangan kerja di dalam negeri.

Mengapa Sederhana itu Sulit?

Inti dari semua kekacauan ini adalah hilangnya kepercayaan. Dalam perdagangan internasional, kepercayaan bahwa aturan hari ini akan tetap berlaku besok adalah modal utama. Ketika kebijakan perdagangan digunakan sebagai alat negosiasi politik yang agresif dan berubah-ubah, “peraturan main” yang selama ini dijaga oleh organisasi seperti WTO (World Trade Organization) menjadi tidak relevan.

Situasi ini mirip dengan bermain sepak bola di mana wasit bisa mengubah aturan offside di tengah pertandingan. Pemain akan bingung, penonton akan marah, dan permainan akan berhenti menjadi tontonan yang menarik.

Ketidakpastian tarif ini bukan sekadar masalah angka di atas kertas; ini adalah masalah mata pencaharian jutaan orang yang bergantung pada kelancaran arus barang antarnegara.

Dunia saat ini membutuhkan kepastian hukum. Langkah AS yang beralih dari satu dasar hukum ke dasar hukum lain (dari IEEPA ke Section 122) mungkin secara teknis legal di mata hukum domestik mereka, namun secara internasional, itu adalah tanda ketidakstabilan.

Mitra dagang harus mulai bersiap untuk skenario terburuk. Diversifikasi pasar menjadi harga mati. Bergantung terlalu besar pada satu negara yang sedang mengalami fluktuasi kebijakan adalah risiko yang terlalu besar untuk diambil di tahun 2026. Tanpa kejelasan aturan, ekonomi global tidak akan lari menuju pertumbuhan, melainkan merangkak dalam ketakutan. Saatnya para pemimpin dunia duduk bersama ke dalam meja perundingan dagang, sebelum labirin ketidakpastian ini berubah menjadi jurang resesi yang dalam.

Bambang Purnomo , SS-BA, CSCA, CAVM Solution Consultant

Leave a comment

OUR PARTNER

[mc4wp_form id="491"]

[mc4wp_form id="491"]

POWER ACTION © 2026. All rights reserved.

POWER ACTION © 2026. All rights reserved.