Menyampaikan duka yang mendalam dan belasungkawa serta simpati yang sedalam dalamnya kepada para korban kebakaran di Jakarta yang harus membuat pengingat pahit bagi kita semua tentang pentingnya keselamatan yang tidak bisa ditawar.
Dalam satu dekade terakhir, baterai litium-ion telah menjelma menjadi urat nadi peradaban modern. Benda tersebut memberdayakan setiap aspek kehidupan kita, mulai dari perangkat komunikasi yang kita genggam erat, sarana transportasi pribadi seperti skuter dan sepeda listrik, hingga sistem drone canggih yang merevolusi industri pemetaan dan logistik. Namun, di balik efisiensi energi yang tak tertandingi, tersembunyi sebuah ancaman laten yang kian mengkhawatirkan: fenomena kebakaran dan ledakan baterai litium yang sporadis, cepat, dan seringkali fatal.
Cuma 1 Menit, Bikin Kampusmu Bangga , Yuks isi survey
Insiden tragis di kantor PT Terra Drone Indonesia di Jakarta, yang merenggut 22 nyawa pada Desember 2025, menjadi pengingat yang sangat serius dan memprihatinkan. Peristiwa ini, yang diduga bermula dari ledakan baterai litium drone yang sedang diisi dayanya, yang merupakan Gambaran dari insiden local yang dapat menggambarkan krisis global yang lebih besar. Kejadian ini bukan hanya masalah kegagalan teknis semata, melainkan sebuah isu keselamatan masyarakat, tata kelola perusahaan, dan urgensi regulasi yang tidak dapat lagi diabaikan. Dunia sedang menyaksikan peningkatan insiden yang disebabkan oleh sifat Lithium batrei sendiri (thermal runaway) , yang mengubah alat bantu kehidupan sehari-hari menjadi bom waktu mematikan.
Dua insiden mengerikan, satu di Asia Tenggara dan satu di Asia Timur, menggarisbawahi keganasan bencana yang dipicu oleh baterai litium.
Kebakaran di Terra Drone Indonesia adalah tragedi dengan dua dimensi bahaya. Dimensi pertama adalah ledakan awal yang cepat, yang disinyalir berasal dari unit baterai drone yang sedang diisi daya. Kejadian ini menunjukkan bahwa bahkan baterai yang ukurannya relatif kecil dan dirancang untuk perangkat sipil pun memiliki potensi destruktif yang sangat besar ketika mengalami kegagalan.
Dimensi kedua, dan yang paling mematikan, adalah hasil forensik. Investigasi menunjukkan bahwa ke-22 korban, yang mayoritas terjebak di dalam gedung, meninggal karena menghirup gas karbon monoksida (CO) beracun dalam kadar tinggi. Gas CO ini dihasilkan dari material yang terbakar di dalam ruangan yang tertutup rapat, dan sifatnya yang tidak berbau serta tidak berwarna menjadikannya pembunuh yang senyap. Para ahli forensik menjelaskan bahwa gas CO memiliki kemampuan untuk berikatan dengan hemoglobin dalam darah sekitar 20 hingga 30 kali lebih kuat daripada oksigen. Artinya, dalam waktu singkat dan hanya dengan beberapa kali hirupan, kemampuan darah untuk mengangkut oksigen ke organ vital—termasuk otak—lumpuh total.
Fakta ini memberikan pelajaran krusial: bahaya utama dari kebakaran baterai litium di dalam ruangan bukan hanya api atau panasnya, tetapi cepatnya produksi asap dan gas beracun yang mematikan. Ini menjelaskan mengapa kebakaran dapat merenggut nyawa begitu banyak orang dalam waktu yang sangat singkat, terutama di gedung-gedung yang memiliki keterbatasan akses keluar-masuk, seperti yang dilaporkan terjadi pada bangunan Terra Drone.
Jauh sebelum tragedi Jakarta, dunia diguncang oleh kebakaran besar di pabrik baterai Aricell di Hwaseong, Korea Selatan, yang juga menewaskan sedikitnya 22 orang. Insiden ini, yang terjadi di fasilitas produksi dan pengemasan baterai litium-ion, menunjukkan bahwa risiko bencana ini tidak terbatas pada pengguna akhir, tetapi merupakan ancaman mendasar dalam rantai pasokan industri. Ledakan seri baterai di pabrik tersebut juga diperkirakan membebaskan gas beracun yang menyebabkan korban tewas karena menghirup asap, bukan karena luka bakar. Peristiwa-peristiwa ini mengirimkan sinyal bahaya yang jelas yakni tempat-tempat yang menyimpan atau memproses baterai litium dalam jumlah besar—baik itu gudang, kantor, atau pabrik—harus diperlakukan sebagai zona risiko tinggi yang memerlukan standar keselamatan yang setara dengan fasilitas penyimpanan bahan peledak.
Kampusku Harus Bersinar! Yuks isi survei singkat
Kegaagalan Batrei adalah ancaman ini bukan lagi anomali yang langka; itu adalah epidemi yang meningkat. Data statistik dari berbagai belahan dunia memperkuat urgensi krisis ini:
Risiko Bisnis yang Meluas: Sebuah studi yang melibatkan bisnis di Inggris menemukan bahwa lebih dari separuh (54%) perusahaan telah mengalami insiden terkait baterai litium-ion, seperti panas berlebih, percikan api, atau ledakan. Yang lebih mengkhawatirkan, satu dari lima (19%) bisnis secara langsung melaporkan insiden kebakaran atau ledakan. Data ini menunjukkan bahwa risiko baterai litium telah bergeser dari kekhawatiran pribadi menjadi masalah risiko operasional dan tanggung jawab perusahaan yang massif, source Aviva Research
Resiko ancaman Transportasi Pribadi: Di kota-kota besar, terutama di Australia dan Korea Selatan, pihak berwenang kebakaran mengidentifikasi baterai litium dalam e-skuter dan e-bike sebagai risiko kebakaran yang tumbuh paling cepat. Di London saja, dilaporkan terjadi kebakaran yang disebabkan oleh e-bike atau e-skuter hampir setiap dua hari pada tahun 2023. Hal ini dipicu oleh tingginya kasus modifikasi ilegal, overcharging (pengisian daya berlebihan), dan penggunaan baterai murah dengan kualitas manufaktur yang buruk.
Luka Bakar Katastropik: Kecelakaan bahkan terjadi pada perangkat yang dikenakan di tubuh, seperti heated insole (sol sepatu berpemanas). Beberapa laporan medis mendokumentasikan kasus luka bakar tebal yang parah setelah baterai di dalam insole tersebut mengalami thermal runaway dan meledak atau terbakar, menyebabkan cedera yang seringkali membutuhkan tindakan bedah. Insiden-insiden ini menunjukkan bahwa kegagalan baterai dapat terjadi secara tiba-tiba dan tak terduga, bahkan pada perangkat konsumen yang relatif kecil.
Inti dari semua insiden ini adalah satu mekanisme kegagalan dampak dari sifat Lithium batrei itu sendiri (thermal runaway). Ini merupakan self reaction dari Lithium Batrei di mana peningkatan suhu dalam satu sel baterai memicu peningkatan tekanan dan suhu di sel-sel tetangga secara berantai. Begitu reaksi ini dimulai akan menjadi kuat dan mungkin tidak terkendali, yang pada akhirnya memicu pelepasan energi secara mendadak dalam bentuk ledakan, api, dan gas yang sangat panas.
Langkah-Langkah Pencegahan yang Tak Terhindarkan Baca Juga Risk management safety
Mengingat sifat baterai litium-ion yang rentan terhadap kegagalan dan kecepatan api yang dihasilkan, strategi pencegahan harus bersifat multi-lapis, mencakup peran individu, perusahaan, dan regulator.
Stop Scroll Dulu! Ada Panggilan Sayang dari Kampus! survey dulu yuk
Pencegahan Pada Tingkat Individu (Pengguna)
Risiko paling umum muncul dari kebiasaan buruk dalam pengisian daya dan penanganan perangkat.
- STOP Pengisian Daya Tanpa Pengawasan (Unattended Charging):
Hampir semua insiden kebakaran e-bike, e-skuter, dan bahkan laptop dimulai saat baterai sedang diisi daya. Pengisian daya adalah momen ketika baterai paling rentan terhadap panas berlebih dan thermal runaway.
Tindakan: Jangan pernah meninggalkan baterai yang sedang diisi daya tanpa pengawasan, terutama saat Anda tidur atau saat Anda meninggalkan rumah atau kantor. Segera cabut pengisi daya setelah baterai mencapai 100%. Hindari menumpuk perangkat yang sedang diisi daya. - Hindari Penggunaan Baterai dan Pengisi Daya yang Tidak Resmi (Non-Original):
Baterai dan pengisi daya murah atau yang dimodifikasi seringkali kekurangan mekanisme perlindungan internal (sirkuit pengaman) yang dapat mencegah overcharging dan thermal runaway.
Tindakan: Selalu gunakan pengisi daya original (asli) yang direkomendasikan oleh pabrikan perangkat Anda. Jangan pernah membeli baterai pengganti dari sumber yang tidak terverifikasi atau sangat murah. Modifikasi pada baterai atau perangkat untuk meningkatkan kinerja harus dihindari sepenuhnya. - Periksa Tanda-tanda Kerusakan Fisik:
Deskripsi: Kerusakan fisik (terjatuh, tertusuk, atau penyok) pada baterai dapat menyebabkan korsleting internal dan memicu bencana di kemudian hari.
Tindakan: Segera hentikan penggunaan baterai yang terlihat menggembung (bengkak), bocor, atau memiliki kerusakan fisik yang jelas. Baterai yang menggembung adalah indikator kuat dari kegagalan internal dan harus dibuang secara aman. Jangan pernah mencoba mengisi daya baterai yang rusak. - Jauhkan dari Bahan Mudah Terbakar:
Deskripsi: Jika terjadi kegagalan, api dari baterai litium dapat menyebar dengan cepat ke material sekitarnya, seperti yang terjadi pada kebakaran gudang atau kantor.
Tindakan: Isi daya perangkat Anda di permukaan yang keras, stabil, dan tidak mudah terbakar, seperti lantai keramik, meja batu, atau beton. Jauhkan perangkat yang sedang diisi daya dari bantal, sofa, tempat tidur, atau tumpukan kertas.
Pencegahan Pada Tingkat Perusahaan (Manajemen Risiko)
- Untuk bisnis, terutama yang mengoperasikan armada drone, e-bike, atau memiliki gudang penyimpanan baterai, kehati-hatian harus menjadi protokol operasional wajib implementasi Standar Penyimpanan Baterai yang Terisolasi:
Deskripsi: Kebakaran yang melibatkan baterai skala besar dapat menghasilkan panas ekstrem (hingga 2.700°C) dan sangat sulit dipadamkan. Penyimpanan terpusat tanpa kontrol yang tepat sangat berbahaya.
Tindakan: Baterai cadangan berkapasitas tinggi harus disimpan di area terisolasi dengan kontrol suhu, jauh dari bahan mudah terbakar, dan idealnya dalam kabinet tahan api (fireproof cabinet) yang dirancang khusus untuk baterai litium. Jangan menumpuk baterai yang terisi daya penuh. - Penerapan Protokol Pengawasan Cepat dan Sistem Deteksi Dini:
Deskripsi: Mengingat kecepatan thermal runaway dan produksi gas beracun, deteksi dini sangat penting.
Tindakan: Pasang sistem deteksi asap dan panas yang canggih di area pengisian daya dan penyimpanan. Untuk area kritis, pertimbangkan sistem deteksi gas CO. Staf harus dilatih untuk bertindak cepat dan mengetahui rute evakuasi seketika setelah alarm berbunyi. - Pelatihan Keamanan Kebakaran Litium yang Spesifik:
Deskripsi: Kebanyakan pekerja, terutama pekerja sementara, mungkin tidak memahami risiko spesifik baterai litium atau lokasi jalur evakuasi. Tragedi Terra Drone dan Aricell menunjukkan bahwa korban seringkali tidak familiar dengan struktur bangunan dan keracunan asap terjadi dengan cepat.
Tindakan: Lakukan pelatihan rutin yang membahas thermal runaway dan prosedur pemadaman baterai litium (yang berbeda dari api biasa). Pastikan semua karyawan, termasuk pekerja sementara, mengetahui secara persis di mana jalur evakuasi, dan penekanan harus diberikan pada pentingnya segera keluar dari area yang berasap.
Singkatnya Tragedi yang merenggut puluhan nyawa di Jakarta dan Korea Selatan telah memberikan pelajaran yang mahal dan tak terbantahkan: inovasi teknologi harus selalu diiringi oleh inovasi dalam keselamatan. Baterai litium-ion adalah bagian integral dari masa depan kita, terutama dalam transisi menuju energi bersih dan elektrifikasi, namun kita tidak boleh mengkompromikan nyawa manusia demi kenyamanan.
Krisis ini menuntut tanggung jawab kolektif. Konsumen harus bertindak sebagai operator yang cerdas dan berhati-hati. Perusahaan harus memprioritaskan nyawa di atas efisiensi operasional dan berinvestasi dalam manajemen risiko baterai yang kokoh. Dan Pemerintah harus bertindak sebagai regulator yang tegas untuk memastikan bahwa setiap perangkat litium yang dijual atau digunakan memenuhi standar keselamatan tertinggi.
Jika kita gagal mengambil tindakan tegas hari ini, Angkara Baterai Litium akan terus membara, mengancam keselamatan kita, satu perangkat, satu kantor, satu gudang, dalam satu waktu. Sudah saatnya kita menyikapi silent burn ini dengan urgensi yang setara dengan api yang dihasilkan.
Bambang Purnomo , SS-BA, CSCA, CAVM Solution Consultant , Certified Dangerous Goods License








